Dirimu di hatiku tak lekang oleh waktu...
Meski kau bukan milikku...


Tahukah kau? Melupakanmu jadi hal yang paling sulit ketika aku menyadari bahwa cinta pertamaku hidup dan mekar di hatimu. Iya, tepat di hati yang dulu tak pernah menganggapku ada. Terkadang aku berjalan dan melalui semuanya dengan baik-baik saja. Seringkali aku lupa akan masa-masa yang telah berlalu. Tapi, hati ini memberontak. Seolah ia masih ingin berkata, "seharusnya aku dan kau masih ada terselip kata 'kita', meski kita tak mungkin saling memiliki". Dan kau tahu? Kalimat itu selalu menyiksaku saat aku kembali sadar bahwa aku-memiliki-kenangan-bersamamu.

Berulang kali aku menulis kisah tentang kehilangan, penerimaan, namun sejatinya penerimaan itu jauh lebih sulit dari apa yang kutulis. Di sini, tengah malam ini, aku masih mengingatmu. Semua masa-masa yang telah berlalu itu kembali berputar dan beterbangan bagaikan kupu-kupu masa lalu. Indah, namun menyakitkan. Kau tak lagi ada di sini, dan aku harus membiasakan diri bahwa kita berdua harus berakhir mengenaskan seperti ini. Mungkinkah di sana, kau masih mengingat semua yang kuingat?

Bukan salahmu, bukan salahku juga. Tak bisakah kita berhenti menyalahkan tentang keadaan yang kini terasa amat menyakitkan? Dulu aku pernah berjuang dan mempertahakan. Sayangnya, saat kau melakukan hal yang sama dan tersadar, aku telah jauh kecewa dan menyerah. Seberapa besar pun cinta itu, masih ada kekuatan lain yang tak bisa kita lawan dan kita pungkiri keberadaannya, takdir.

Di sini, bersama semua lanskap kenangan kita, aku berusaha menerima takdir tentang segala mimpiku tentangmu yang telah musnah. Dan di sana, mungkinkah kau berusaha menerima takdir ini juga?

Intan permata yang tak pudar...
Tetap bersinar..
Mengusik kesepian..
Jiwaku...

Kesepian itu tampak jelas seperti tahun-tahun lalu saat aku belum menemukanmu, dan ketika aku bersamamu dengan keadaan tak diacuhkan. Meski aku menjalani segalanya, bukan berarti aku tak mengingatmu. Selalu ada celah untuk mengganggu ketenanganku, untuk merusak retak perasaan yang berusaha kususun sejak kemarin, sejak kau menghilang dari hidupku.

Entah kau akan membaca tulisanku malam ini atau tidak, aku tak tahu. Aku selalu berharap suatu hari nanti saat aku dan kau bertemu, ada waktu yang lebih baik untuk bisa memperbaiki akhir yang saat ini kau pilihkan untukku. Akhir yang kutahu amat menyakitkan bagiku.

Lelakiku, berbahagialah hingga nanti takdir yang lain datang padamu. Bahagialah seumur hidupmu dengan wanita yang nantinya akan menemanimu. Begitu pun denganku. Meski aku tahu dengan jelas, kau akan selalu berada di sini, bersama setengah hati yang telah kau bawa bertahun-tahun lalu. Kalau pun setengah dari hatimu tertinggal di sini, maka cintai wanita lain dengan sisa hati yang kau miliki. Sepenuh hatimu, cintai dia. Seperti dulu aku mencintaimu, meski kau tak pernah menyadariku.