Kusesap rindu yang mencair dalam lidah kelu, sebab berucap tak lagi terasa sama. Kuteguk tawamu yang pecah bersama mereka, sebab tawaku hanya ingin kubagi denganmu. Kunikmati cinta yang mekar dalam diam, sebab kita sejauh-jauhnya jarak saat bersama;satu rentang jeda yang menuai abai atas kata.

Kita tidak perlu sapa. Tidak perlu cerita. Tidak perlu sentuhan. Sebab apa-apa yang kurasa, barangkali cukup tertuang dalam gelas kopiku--tanpa gula, tanpa madu, tanpa kamu.

Kau masih berkelakar, ketika aku kian jengah dengan diamku. Jemariku menggeretak meja beraturan. Geram. Sedang kau tertawa renyah. Dan aku hanya bisa merutuki jarakku yang teramat dekat denganmu; satu rentang bahu yang tidak menahu akan rindu.

Kau lelah, aku lelah, mereka lelah. Kita lengah, dalam jiwa yang lemah.

Gelas-gelas kopi kosong. Tawa-tawa memudar. Cerita-cerita memuai. Orang-orang keresahan. Hati-hati kehilangan. Jiwa-jiwa berkaparan. Dunia mulai transparan.

Seorang pelayan membawakan bill minuman kita. Receh uang terkumpul, ia pun berlalu. Langkah-langkah kita meragu, di parkiran saling tergugu, sesekali termangu. Tubuh kita berlalu, namun lidah ingin berucap;sayangnya ia kelu.

Lampu-lampu jalan berkelip, entah gundah, entah pula miskin listrik. Kita memutar ke arah yang berbeda. Hujan turun, menghapus jejak yang tertinggal. Lambaianmu mendung, balasanku menjadikannya hujan. Kita malam paling kelam. Aku mencintai dalam muram.