Kau, Aku, Segelas Jus Alpukat dan Cappucino Dingin

"Ih, Kak, malu kali loh..." ucapmu dengan senyum yang kutahu-apa-maksudnya.

Ya, berulang kali kaukatakan tentang kau malu dengan semua kejadian ini. Tentang ini pertama kalinya bersamaku dan kejadian itu terjadi. Kau yang merasa malu atas kejadian itu, kau yang takut aku menyesal dan merasa 'kapok'. Tapi pernahkah kau bertanya padaku tentang kejadian tadi?

Untuk pertama kalinya aku bisa bersamamu, berada di belakangmu, duduk manis dengan cerita-cerita tentang Tugas Akhir yang benar-benar membuat kita stres. Untuk pertama kalinya pula aku tidak begitu canggung berada di dekatmu. Mungkin karena aku yang jauh lebih bisa mengontrol perasaan segan dan sebagainya. Atau juga mungkin karena kau yang mampu menemukan bahan pembicaraan di awal-awal kebersamaan kita yang--tanpa disengaja itu. Entahlah. 

Kita masih sibuk membahas hal-hal yang--kuanggap cukup untuk mencairkan suasana yang beberapa saat lalu menjadi senyap. Kita yang terpisah dari mereka--gara-gara si kunyuk satu itu yang ninggalin kita hingga akhirnya kita semua terpisah. Kita yang entah mengapa setuju memilih jalan itu--jalan sempit yang gelap dan sepi. Ya, memang, kita menghindari macat yang tiba-tiba saja melanda kota kita gara-gara diskon. Hahaha aku ingat sekali tujuan kita tadi malam; diskon. Ah, tujuan kalian maksudku, karena aku memang tidak hobi belanja.

Di jalan itu, kita membahas sesuatu yang cukup konyol--tentang kejadian tak menyenangkan di daerah situ yang entah mengapa jadi bahan pembahasan kita. Hingga, kejadian itu terjadi. Kau yang memang sedikit minus, tanpa kacamata, dan kau terkejut ketika menyadari jalan berlubang di depan. Dengan mendadak kau menekan rem kanan. Kita yang memang terlalu rapat ke kiri--mendekati paritan di sisi kiri jalan, membuat aku ataupun kau tidak bisa menjejakkan kaki, lalu kita tergelincir dan.... begitulah segalanya terjadi. 

Saat aku sadar, kita sudah keluar dari sisi jalan, dan aku terjepit motor dengan posisi tanganku berada di belakang kepalamu--melindungimu dari benturan. Lucu. Bagaimanalah aku bisa refleks melakukan hal itu sedang aku tidak tahu kita akan mengalami hal ini. Yang selanjutnya terlintas di pikiranku; "Siapa yang akan lewat jalan ini dalam waktu dekat? Berapa lama kita harus menahankan kondisi ini?"

Saat itulah Tuhan menjawab pertanyaanku. Tidak lama setelah kita terjatuh, seseorang menolong kita. Ya Tuhaann, padahal aku tidak melihat ada cahaya di belakang kita, sedang orang yang di hadapan kita tadi sudah melesat jauh. Aku benar-benar yakin ketika hal itu terjadi, tak ada siapa pun di sana. Lalu bagaimana mungkin pertolongan datang secepat itu? Entahlah. Mungkin Tuhan yang menolong kita.

Usai menit-menit yang cukup menyakitkan dan membuatku geli, kita berhasil keluar dari paritan. Tak ada luka berarti--setidaknya untuk saat itu aku belum menyadari luka apapun. 

"Kakak nggak pa-pa?" tanyamu seolah kaukhawatir. "Iihh, malu kalilah kayak gini," timpalmu yang lalu membuatku tertawa.

Betapa konyolnya kau tadi malam. Bagaimanalah bisa kau memikirkan tentang 'malu'? Oke oke, aku mengerti bagaimana reaksi sekelas seandainya tahu tentang kejadian ini. Tapi mengapalah hal itu yang kau khawatirkan? Aku justru lebih mengkhawatirkan keadaanmu, dan aku takut kau 'kapok' membawaku. Secara tidak langsung, aku menyimpulkan bahwa, karena bersamaku, kau jadi mengalami hal ini.

Abang-abang yang tadi menolong kita, akhirnya pergi setelah memastikan motormu masih bisa menyala, dan kita baik-baik saja. Bahkan dia sempat tertawa saat kau berkata tentang 'malu'. Hahahaa lihat? Bukan hanya aku, dia pun berpikiran kau konyol--dalam hatinya pasti.

Kita melanjutkan perjalanan, dan yang kita rasakan sama; tidak berniat lagi untuk datang ke tempat tujuan awal dengan kondisi seperti itu. Akhirnya aku mengajakmu ke rumahku, menunggu mereka sampai selesai belanja di rumahku. Nanti-nanti, mereka bisa menyusul ke rumahku, mereka sering ke rumahku.

Tadi malam, untuk pertama kalinya pula, kau datang ke rumahku, kau tahu di mana rumahku--meski aku tidak yakin kau masih mengingat jalan ke arah rumahku dengan begitu banyak belokan karena rumahku memang paling sudut. Hahaha

"Makan dulu yok, Kak. Kakak udah makan?" katamu saat kita putar balik arah. 

Aku berpikir sejenak. "Udah, Bang. Tadi aku buka di luar. Abang mau makan apa?"

"Terserah, Kak."

"Serius mau makan apa? Biar aku tahu nunjukkan tempatnya."

"Mie-mie gitulah."

"Mie aceh?"

"Bisalah."

"Oke, belok kiri ya di spbu depan." Aku menyeringai.

Sepanjang jalan kita masih membahas kejadian itu. Rasanya lucu. Lucu saja mengingat hal itu. Dan aku masih terus terbayang tentang kejadian itu.

Dan tak lama kemudian kita tiba di tempat makan.

Aku hanya memesan segelas cappucino dingin, dan kau memesan jus alpukat serta mie aceh. 

"Kakak nggak makan?" tanyamu saat aku tidak memesan makanan.

Aku tersenyum--tertahan. "Udah makan tadi, Bang. Minum aja."

"Ya, aku pun udah makan kalo gitu. Nggak makan apa gitu?"

"Nggaklah. Minum aja."

Aku sibuk main HP, begitu pun kau. Aku menghela napas sejenak, lalu menatapmu yang masih sibuk main HP. Sebuah senyum simpul mengembang. Bagaimanalah kejadian malam ini bisa terjadi? Hingga kita bisa nyasar ke tempat makan ini?

Teman-teman kita yang lain mulai menelepon kita. Dan kau mulai gusar harus berkata apa.

"Apa ini bilang kak?"

"Bilang aja kita makan di luar." *nyengir

Akhirnya kau mengangkat telepon itu, dan mengatakan hal itu. Entahlah, entah. Mungkin mereka akan sebal dan kesal melihat kita yang tidak sampai ke tempat tujuan. Karena setelah telepon itu terputus, aku masih sms-an dengan ketua kelas kita. Dan nada smsnya terdengar kesal. Hahahaah biarlah mereka kesal. Biar saja. Mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan kita.

Selanjutnya kita sibuk berbincang tentang; haruskah kita bilang tentang kejadian ini? Atau kita diam-diam saja? 

Segala kemungkinan kita bahas. Berbagai alasan agar membuat kejadian tadi tidak begitu memalukan--menurutmu--juga kita bahas. Apa kesimpulannya? Ya sudah, dibilang saja.

Aku hanya menurut. Terserah kau saja. Aku tidak masalah dengan bully-an anak-anak kelas.

Kau tahu? Bukan hanya aku dan Tuhan yang menyaksikan perbincangan kita. Ada segelas jus alpukat milikmu dan segelas cappucino dingin milikku. Tidak hanya itu, ada beberapa orang, meja, jaket yang kita pakai, tasku, dan HP kita. Ada banyak hal yang menyaksikan. Menyaksikan kekonyolanmu maksudnya. Hahahaha

Selesai makan, kita pulang ke rumahku, menunggu mereka selesai belanja.

Kau masih saja membahas tentang 'malu', pertama kali ngebonceng aku dan kejadian seperti itu terjadi, dan sebagainya. Pernahkah kau bertanya dengan sungguh-sungguh apakah aku menyesali malam ini? Karena kalaupun kau bertanya, aku akan dengan yakin menjawab TIDAK.

Aku tidak menyesali kejadian malam ini, kecuali rasa bersalahku karena kau tidak jadi membeli baju, Hahahaha.. Aku tidak menyesali sedikitpun. Tidak untuk setiap luka yang kuperoleh tadi malam, atau untuk sepatuku yang rusak, atau untuk bajuku yang kotor, atau untuk tasku yang jorok, atau untuk waktuku yang terbuang. Aku tidak menyesali semua itu. Karena, setelah kejadian itu, bersama jus alpukat dan segelas cappucino, ditambah segelas air putih saat di rumahku, aku bisa mengobrol panjang lebar bersamamu. Aku bisa seakrab ini denganmu.

Terima kasih untuk tadi malam. Dan.... terima kasih juga sudah bertanya pin bb-ku tadi malam. Aku tidak menyesal, tenang saja.

Post a Comment

0 Comments